Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

tour belitung

Akhirnyaa bisa juga berkunjung ke Belitung, setelah kehabisan tiket mengejar gerhana matahari 9 Maret bulan lalu. Pulau yang memiliki banyak wisata pantai ini, terangkat namanya salah satunya karena suksesnya film Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Belitung merupakan salah satu destinasi yang cukup terjangkau untuk wisata pulau dan pantainya. Belitong adalah sebutan nama setempat untuk Belitung, nama tersebut diambil dari nama sejenis siput laut ( salah satu oleh – oleh khas Belitung adalah keripik siput ), dulunya pulau ini juga disebut Billiton ( Billintonite/ Batu satam adalah batuan meteor yang hanya bisa ditemukan didalam tanah saat penambangan timah ). Ini adalah rekaman perjalanan saya selama 3 hari di Belitung, seperti apa cerita, pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan dari Pulau ini, mari kita mulai.  ( tulisan ini belum lengkap – akan segera dilengkapi minggu ini, mohon bersabar )
Bandara H.AS.HANANDJOEDDIN

Bandara H.AS.HANANDJOEDDIN - kantin DWP    Bandara H.AS.HANANDJOEDDIN - kantin DWP - kepiting

 

Intro

Pagi buta saya sudah sampai di halte Damri didekat Bekasi Cyber Park, tepatnya pukul 3 pagi. Setelah menunggu 30 menit, bus pun berangkat. Dari halte Damri ke bandara hanya memakan waktu sekitar satu jam, tidak jauh berbeda dengan penerbangan dari bandara SOEKARNO HATTA menuju bandara H. AS. HANANDJOEDDIN ditempuh kurang lebih 50 menit. Saya menggunakan maskapai sriwijaya air dengan rate pulang pergi Rp 900.000. Untuk transportasi saya mengikuti tour belitung selama 3 hari dengan paket Rp 500.000/orang dengan kapasitas per grup 12 orang. Sesampainya di bandara kami sempat makan di kantin DWP, haha bisa sama begini ya namanya sama salah satu acara musik. Saya memesan kepiting rajungan, makanannya cukup unik karena menggunakan cangkang kepiting sebagai wadah, dan diisi dengan kepiting yang sudah di bumbui juga diolah namun tetap terasa teksture daging kepitingnya rasanya pun enak. Tidak lama kemudian kami di jemput dengan mobil Hiace, salah seorang dari anggota tour bertanya pada guide,  “Pak namanya siapa” jawabnya “Saya, Kulup” , saya langsung menahan tawa. Saya rasa kami semua berpikiran yang sama hahaha, namun ada salah satu dari kami yang mengalihkan topik dengan berkata “ Kulup itu kalau di Jawa sejenis lalapan sayuran yang direbus, Kulup-Kulupan bayam misalnya”.

Hari Pertama

Mengawali perjalanan kami mampir ke Hangar 21 untuk makan, tempatnya nyaman dan tidak jauh dari bandara, sekitar 2 KM. Saat mobil berputar arah untuk menyeberang ke Hangar 21, Pak Kulup sepertinya kurang memprediksi jarak putaran mobil, sehingga mobil kami menabrak trotoar jalan, tapi mobil Hiace ini kuat karena saat kami parkir dan melihat bumper, tidak ada bekas penyok atau goresan. Usai makan kami check in ke hotel dan langsung berangkat menuju pantai burung mandi. Dalam perjalanan dibagian kiri dan kanan jalan berbaris rumah khas Belitung, dari rumah yang ada nampak bahwa design rumah sangat mirip antar satu dengan yang lain, namun ada beberapa variasi model rumah.

Vihara Dewi Kwan Im Belitung Tiga Teman Kecil Di Vihara Dewi Kwan Im Belitung
Patung Dewi Kwan Im

Vihara Dewi Kwan Im, yang merupakan salah satu vihara tertua yang ada di Belitung, karena letaknya yang searah dengan pantai burung mandi, maka kami mampir juga kesana. Disana kami menemui beberapa orang yang sedang beribadah, kami tetap menjaga volume suara agar mereka tidak terganggu saat beribadah. Vihara ini sedang mengalami renovasi di bagian atasnya ini terlihat dari bagian semen yang baru dan juga  patung Dewi Kwan Im yang masih tertutup wajahnya oleh kain. Sesampainya di pantai burung mandi, ada juga rombongan karya wisata sekolah, terlihat dari murid – muridnya yang masih berusia belasan. Karena cukup haus kami semua memesan kelapa, menurut salah satu anggota kami, kalau kelapa pantai rasanya lebih asam daripada kelapa gunung. Selain itu kelapa juga dipercaya bermanfaat untuk mengatasi keracunan. Untuk yang penasaran seperti apa pemandangan pantai ini, dan punya google cardboard camera bisa lihat pemandangannya dengan gambar dibawah ini. ( download gambar terlebih dahulu )

pantai burung mandi belitung.vr

 

Kami berlanjut ke manggar lebih tepatnya di pantai serdang, disana kami sharing makanan, untuk menu diantaranya gangan ( ikan dengan kuah bumbu kuning dan nanas) udang saos tiram, kangkung dan ikan ayam ayam yang dimasak dengan bumbu kuning, untuk makan 12 orang kami mengeluarkan biaya Rp 45.000 / Orang. Saya menyukai menu makanan yang dihidangkan siang ini, ikannya pun segar sehingga tidak amis.

 

Di Gantong Kami mengunjungi Kampung Ahok, disana terdapat rumah dan juga toko souvenir yang beberapa barangnya adalah asli buatan keluarga Ahok. Kalian bisa melihat seperti apa suasana diluar Rumah dan Kampung Ahok pada image dibawah ini. ( bisa di download untuk di liat via google cardboard camera )

kampung ahok.vr

 

Tidak jauh dari sana ada Museum Kata Andrea Hirata, saat ini kondisinya dalam tahap renovasi, namun masih tetap dapat dikunjungi. Seperti inilah beberapa sisi progress renovasi yang sedang berjalan. ( bisa di download untuk di liat via google cardboard camera )

museum kata Andrea Hirata belitung.vr

Dalam museum ini banyak sekali dokumentasi bagaimana Andrea Hirata mendapatkan apresiasi yang luar biasa dengan mengangkat cerita mengenai Belitung, disini juga saya mendapatkan banyak sekali piala penghargaan. Dibelakang museum juga sedang dibangun replika sekolah laskar pelangi (recheck), sayangnya saya tidak dapat belama – lama disana karena harus sepakat dengan setiap orang di grup kami. Selesailah perjalanan hari pertama di Belitung, saya pun kembali ke hotel. Sebelum istirahat saya sempat makan malam di Kedai Mak Janah, saya memesan ayam bakar dan juga iga bakar, rasanya enak dan bumbunya pas dengan harga berkisar Rp 30.000 saya rasa ini masih masuk untuk porsi yang besar dan rasa yang cocok dilidah.

 

Arsitektur Belitung  ( mohon maaf gambar menyusul )

Mengamati rumah yang berada disepanjang perjalanan hari ini, menurut pengamatan saya terdapat setidaknya 3 basic model rumah yang dibangun. Hasil pengamatan saya itu didapatkan karena saya sampai saat ini bekerja disalah satu developer perumahan, karenanya saya mulai lebih memperhatikan arsitektur pada suatu tempat. Belitung memiliki rumah dengan desain yang hampir serupa, yaitu dengan atap segitiga dan dengan teras berkanopi. Dengan kondisi cuacanya yang cukup panas, tidak heran bahwa mereka membuat kanopi agar teras dan rumah tidak terpapar teriknya matahari, namun ada yang unik, kenapa mereka menggunakan genteng dari seng ? bukankah ini akan menyerap panas dan panas tersebut akan terperangkap di dalam rumah?

Ada juga yang membuat saya penasaran kenapa ada juga yang berupa rumah panggung, akhirnya saya bertanya kepada Pak Kulup mengenai rumah di Belitung. Ia menjelaskan bahwa rumah panggung adalah rumah model lama / adat dari Belitung. Ketiga tipe rumah yang ada, kebanyakan memiliki kanopi pada terasnya. Saya minta maaf karena belum bisa melampirkan foto perbandingan antara ketiga rumah ini, karena dalam perjalanan saya tidak bisa  meminta Pak Kulup untuk berhenti, mengingat saya juga berada dalam rombongan tour dengan jadwal yang sudah ditetapkan dari awal. Sebagai pengganti foto, saya akan membuatkan sketsa sebagai gambaran rumah Belitung.

Rumah tipe pertama:rumah ini memiliki pondasi berupa kayu atau balok semen, pondasi tersebut memiliki jarak satu dengan yang lainnya sehingga rumah tidak bersentuhan langsung dengan tanah atau dapat dikatakan melayang. Memiliki dinding yang terbuat dari kayu dengan susunan mendatar / horizontal.Atap berupa genteng yang terbuat dari bahan tanah liat.

Rumah tipe kedua : berbeda dengan rumah tipe pertama, kini rumah tidak lagi menggunakan pondasi kayu ataupun balok semen. Rumah sudah dibangun diatas permukaan tanah.Kayu yang digunakan sebagai dinding juga sudah berubah penyusunannya menjadi disusun berdiri / vertikal.Atap yang digunakan antara genteng tanah liat atau seng.

Rumah tipe ketiga : merupakan hasil pembaharuan dari rumah tipe kedua, rumah sudah menggunakan dinding dari batako / bata, sedangkan didinding bagian luar menggunakan finishing berupa cat maupun keramik. Genteng yang digunakan berupa genteng seng atau genteng metal.

 

Hari Kedua

Perjalanan hari ini kami akan berkunjung ke beberapa pulau disekitar Pantai Tanjung Kelayang. Kami Sebelum memulai perjalanan hari ini saya sarapan dan membeli beberapa makanan kecil sebagai perbekalan. Setibanya di Pantai Tanjung Kelayang, terlihat bangunan yang tidak selesai pembangunannya, menurut Pak Kulup tadinya ini akan dijadikan hotel, namun proses pembangunannya terhenti. Sebenarnya sangat disayangkan, karena jika hotel tersebut selesai maka untuk akses ke pantainya akan sangat dekat.

pulau pasir belitung 2

Berangkat dari pantai tanjung kelayang, kunjungan pertama kami adalah Pulau Pasir, sebenarnya ini tidak bisa dikatakan sebagai pulau, karena ukurannya yang kecil, dan hanya terdiri dari pasir. Pulau seperti ini banyak juga ditemukan di daerah dengan banyak kepulauan kecil, di Indonesia kebanyakan disebut Pulau Pasir.

pulau lengkuas by tara mahakita on 500px.com
 Perahu kami berlayar kembali dan dari kejauhan sedikit demi sedikit terlihat mercusuar yang berada di Pulau Lengkuas.
pulau lengkuas by tara mahakita on 500px.com


Tidak lama setelah perahu berlabuh saya langsung menaiki mercusuar, untuk dapat naik ke atas kita harus membayar Rp 5.000 / orang, uang tersebut akan digunakan untuk biaya pemeliharaan.

berlabuh di pulau lengkuas

Ada beberapa aturan yang harus diingat sebelum menaiki mercusuar:

Kaki harus dalam keadaan bersih, kering dan terbebas dari pasir. Pemeliharaan mercusuar sudah menyediakan spons kering untuk membersihkan kaki dari pasir, dan cara ini sangat efektif dibandingkan dengan membilas dengan air

Tidak diperbolehkan membawa air minum, ini bertujuan untuk mencegah pengunjung menumpahkan air secara tidak sengaja yang dapat menyebabkan karat pada mercusuar, juga membantu mencegah botol minuman tertinggal dan mengotori mercusuar

Harap tidak terburu – buru dalam menaiki anak tangga, Aturlah nafas dengan baik, karena ada juga yang tidak tahan dengan aroma dari cat besi. Jika sudah terasa lelah bisa beristirahat di setiap lantai sambil melihat pemandangan dari jendela yang tersedia

Pembuatan mercusuar ini berlangsung pada jaman penjajahan Belanda tahun 1882.Terlihat dari dindingnya, pembangunan mercusuar ini telah dirancang dengan membuat tiap panel khusus untuk setiap lantai. Dengan ketinggian 18 lantai mercusuar ini memiliki 313 anak tangga.Mercusuar ini berfungsi untuk memberikan petunjuk kepada kapal – kapal yang ada agar tidak karam pada perairan yang dangkal. Penjaga mercusuar secara tidak langsung sangat berjasa menjaga keselamatan kapal berserta dengan awak kapal yang berlayar disekitar perairan.

Menaiki anak tangga demi anak tangga yang semakin lama semakin terjal, terbayar dengan pemandangan yang disajikan pada puncak mercusuar.Dari sini saya seperti bisa melihat horizon dari bumi yang membentang luas. Bersyukur sekali masih bisa menikmati momen seperti ini.

pulau lengkuas mercusuar by tara mahakita on 500px.com

Tidak hanya menikmati pemandangan dari atas mercusuar, saya juga snorkeling air di sekitar terumbu karang yang ada di Pulau Lengkuas. Pada saat grup kami snorkeling kebetulan sedang ada penanaman terumbu karang. Jujur saja, ini pertama kalinya saya snorkeling haha ditambah dengan saya sudah lama sekali tidak berenang, jadi pertama butuh penyesuaian lagi  saat awal berada di air. Pemandangan bawah air terlihat terumbu karang disini terjaga kelestariannya sehingga banyak ikan yang tinggal disini. Snorkeling tentunya menambah rasa lapar ditambah sekarang sudah siang, saya rasa yang lainnya juga merasa begitu. 

Kami pun menuju Pulau Kepayang atau Pulau “Gede” Kepayang untuk makan siang, beberapa menu yang disajikan sama dengan hari pertama, yaitu makanan khas Belitung “ gangan “ dan juga “ ikan ayam – ayam “ namun kali ini cara masaknya berbeda yaitu dengan dimasak kecap, ditemani juga dengan cumi tepung , dan juga udang.

pulau gede kepayang.vr

pulau gede kelapang belitung.vr

Dipulau kepayang ini juga terdapat penangkaran penyu, sayang sekali waktunya tidak sempat untuk mengunjunginya, kalau kalian ke pulau kepayang dan mengunjungi penangkaran penyu, boleh di share foto dan ceritanya.

Dalam perjalanan menuju kembali ke Pantai Tanjung Kelayang, kami mengunjungi Pulau Batu Berlayar. Pulau ini terdiri dari batu – batu raksasa dengan dataran pantai yang tidak begitu luas. Banyaknya batu raksasa di Pulau Belitung ini seperti yang ada juga di Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pantai Tanjung Kelayang, Pantai Tanjung Tinggi dan beberapa daerah disekitar Belitung mengundang misteri tersendiri, karena sama sekali tidak ada gunung vulkanik di Pulau Belitung.

pulau batu berlayar
Seusai dari Pulau Batu Berlayar kami mampir di Pantai Tanjung Tinggi, ini merupakan salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi, karena tempatnya cukup ramai jadi kami hanya mampir sebentar.

Pantai Tanjung Tinggi – Belitung

pantai tanjung tinggi belitung
Puas dengan pindah dari pulau ke pulau sehari ini, kami akan melanjutkan dengan makan malam di salah satu tempat makan yang dikenal di Belitung, sebelumnya kami mampir ke hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak. Pukul 19.30 Pak Kulup sudah siap menjemput kami, jadi malam ini kami akan makan di “ Ruma Makan Belitong Timpo Duluk” karena terkenalnya tempat ini kami harus pesan tempat dulu untuk bisa makan disini. Katanya kalau ke Belitung tapi belum makan di tempat ini , belum lengkap rasanya.Tempat makan ini menawarkan masakan rasa tempo dulu karena dimasak dengan resep yang sama sejak tahun 1918, bisa dibilang resep yang sama seperti yang ada pada jaman penjajahan dulu. Atmosfir Ruma Makan Belitong Timpo Duluk juga dibuat antik sehingga kita dibuat serasa makan pada jaman dulu.Peralatan makannya pun menggunakan piring kaleng dan gelas kaleng untuk menguatkan kesan antiknya, pada dinding dekat jendela juga terdapat sample barang – barang yang dihasilkan di Belitung, yaitu Timah, Kaolin, Sahang, dan Batu Satam / Billitonite.Meskipun terasa kuno disini terdapat pula akses WIFI, dalam hati saya berkata mungkin ini ditujukan agar pengunjung berfoto dan menyebarkan rekomedasi untuk datang dan makan ditempat ini. Makanan yang saya coba adalah gangan, ayam semur, tempe, ikan berbulus dan minum es jeruk kunci. Rasa makannya tidak terlalu kuat, mungkin seperti inilah resep jaman dulu karena tidak menggunakan banyak penyedap rasa.Dimeja sebelah kami terdapat grup wanita dengan pakaian seperti kebaya jaman dulu, dan gaya rambut yang juga kuno. Setelah ditanya ternyata mereka adalah grup tour dari dokter gigi, yang memang janjian untuk menggenakan pakaian kuno untuk menyesuaikan dengan tempat mereka akan makan.Ruma Makan Belitong Timpo Duluk masuk kedalam salah satu warisan budaya yang dilindungi berdasarkan rekomendasi pemerintah kabupaten Belitung. Terakhir untuk harga makan di tempat anti seperti ini, cukup mahal menurut saya, bisa dilihat dari bon kami makan, untuk 12 orang kami menghabisakan 1 Juta, sekitar Rp 83.000 per orang.

kasir ruma makan belitong timpo duluk
Tidak selesai dari situ kami mampir kesalah satu kedai yang cukup ramai di tengah kota. Disana saya tidak memesan apapun karena sudah terlalu kenyang. Saya memutuskan untuk mengobrol dengan pak kulup malam itu, beliau berceritabahwa satu sumber daya mineral yang paling banyak di Belitung adalah Timah, maka dari itu kebanyakan penduduk disana juga berprofesi sebagai penambang timah, pak kulup juga merupakan salah satunya. Ketika persediaan Timah mulai menipis, dan banyak tambang yang sudah tidak produktifiamemutuskan untuk berubah haluan menjadi guide, pekerjaan ini mulaiditekuni sejak 3 tahun terakhir. Ia juga menjelaskan bahwa setelah Belitung menjadi lokasi syuting Film Laskar pelangi, kepopuleran pulau ini semakin meningkat. Dengan tereksposenya Belitung maka banyak sekali yang berpindah profesi sebagai guide, nelayan pun berubah profesi pula menjadi pengantar turis ke pulau, hotel pun mulai banyak berdiri. Luar biasanya dampak film laskar pelangi yang membawa perubahan dan menjadi rejeki tersendiri bagi masyarakat Belitung. Saya tidak bisa membayangkan apabila Belitung tidak memanfaatkan kotanya sebagai daerah pariwisata, karena sekarang tambang timah sudah banyak tutup, juga tambang kaolin yang pembelinya dari jepang sudah berpindah untuk membeli ke Tiongkok ( China ). karena nama Pulau Belitung  semakin terkenal, penerbangan menuju kota ini pun meningkat dari 1 – 2 penerbangan perhari menjadi 6 – 7 penerbangan perhari.

 

Ada baiknya jika anda kesini mengikuti tour belitung atau menyewa kendaraan ketika menggunjungi kota ini, karena disini tidak ada angkutan kota / angkutan umum / angkot maupun kendaraan umum, yang ada hanya tour, taxi, dan charter mobil. Berdasarkan cerita yang saya dapat, dulu sempat ada angkutan umum, namun karena angkutan tersebut sering terlalu lama menunggu untuk mendapatkan penumpang sampai penuh, maka  para penumpang semakin lama semakin sedikit , karea itu tidak dapat menutup biaya operasional, sehingga angkutan umum tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Warga Belitung juga tidak bisa menikmati hiburan bioskop, karena disini sudah tidak ada lagi bentuk hiburan tersebut, penyebabnya sama seperti kendaraan umum, karena sepi pengunjung lama kelamaan gulung tikar.

 

Hari ketiga – belitung

Hari ini Minggu, 30 April 2016 adalah hari kepulangan saya. Beberapa orang dari grup kami harus ke bandara jam 10 pagi, karena dapat penerbangan siang, jadi tidak banyak yang bisa dikunjungi pada harti terakhir. Perjalanan pagi ini diawali dengan membeli oleh – oleh, beruntung karena salah satu toko oleh-oleh dan souvenir tidak jauh dari hotel. Dari sana kami disempatkan ke salah satu tempat wisata yaitu “ pantai tanjung pendam “ tempat memiliki jalanan seperti lintasan jadi cocok untuk lari pagi, pemandangan yang berbeda jika mengunjungi tempat ini dimalam hari, kata pak kulup. kalau malam tempat ini banyak tempat makan kaki lima yang buka sehingga menjadi tempat nongkrongnya anak muda. Dari tanjung pendam dapat terlihat juga pelabuhan.

Sudah puas berkeliling kami menuju ke mie atep, mie khas belitung yang terkenal.

Tempat makan ini tidak hanya ramai oleh wisatawan namun juga penduduk lokal. Bentuk tempat makan yang memanjang sampai kebelakang ini cukup unik menurut saya,
sampai – sampai bagian dari rumahnya pun dijadikan ruang makan untuk tamu.

Dalam perjalanan meninggalkan bandara, kami mampir untuk makan siang, untungnya tempat makan tidak jauh dari sana. Mengamati beberapa menu yang ditawarkan saya memutuskan untuk memesan ayam bakar dan minum es alpukat keruk. Usai bersantap siang, kami kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak kemudian checkout. Pak Kulup menawarkan apakah mau ke Danau Biru sebelum ke bandara, karena kami mendapat penerbangan sore, maka kami semua menyambut baik tawaran tersebut. Pak Kulup bercerita asal mula terbentuknya Danau Biru, penambangan / pengerukan Kaolin yang menyebabkan bekas berupa lubang besar di tanah, lama kelamaan lubang tersebut terisi air, karena kandungan yang terdapat di material tambang, menyebabkan air berwarna biru. Meskipun sempat gerimis, warna biru dari danau tersebut masih terlihat jelas, namun apabila didukung dengan cuaca yang cerah tentunya warna biru akan semakin nampak.

Danau Biru Belitung

Danau Biru Belitung – mini van

Karena cuaca yang semakin mendung di danau biru, kami memutuskan untuk berangkat menuju bandara. Kami sampai dibandara sekitar jam 15.00, tepat sekali waktunya karena jadwal keberangkatan pesawat jam 16.30, jadi masih punya waktu kurang lebih satu setengah jam. Selesai  check-in dan bagasi, salah seorang dari grup kami ada yang mengajak untuk minum kopi. Saya menerima tawaran tersebut, lumayan sambil menunggu pesawat. Kami pun ke kantin DWP, saya memesan kopi susu. Sebenarnya saya sudah lama tidak minum kopi. Namun karena ingin mengisi waktu untuk menunggu, dan bisa dapat teman ngobrol sambil ngopi, kenapa tidak?

Berselang beberapa saat meninggalkan kantin DWP, perut saya mulai terasa sakit. Rasa sakit perut ini tidak seperti biasanya, karena perut saya seperti di pelintir. Waktu menunggu pesawat saya habiskan hanya di toilet. 6 kali sudah saya ke toilet karena sakit perut yang tidak kunjung reda. Tidak terasa sudah berkali – kali ke toilet, jam sudah menunjukan pukul 16.20, mau tidak mau saya harus tetap masuk pesawat. Celakanya ternyata di pesawat pun perut saya juga belum membaik. Saat pesawat mengudara dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan, saya langsung bergegas ke toilet. Tidak lama kemudian keadaan cuaca memburuk sehingga pintu toilet diketuk dan saya diminta untuk kembali ke tempat duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Beberapa menit kemudian saya mendapat serangan lagi, sungguh menyiksa sakit perut ini, terutama karena sedang tidak berada di daratan. Ketika saya terakhir kali menggunakan toilet pesawat, tidak lama kemudian ada pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara soekarno hatta. Luar biasa saya sampai 3 kali ke toilet dalam penerbangan Belitung – Jakarta.

Sesampainya di bandara jam 18.05 saya langsung turun dan berlari mencari toilet. Selesai dari toilet, saya berinisiatif menanyakan kepada petugas bandara dimana saya dapat membeli obat sakit perut, ia lalu menyarankan untuk ke klinik bandara. Saya baru tahu, bahwa dibandara juga ada klinik. Saya ditanyakan sudah berapa kali ke toilet dan sejak jam berapa, sambil diperiksa tekanan darah. Usai memberikan jawaban, saya juga menyatakan dugaan saya terhadap penyebab sakit perut. Pertama saat makan siang terakhir sebelum ke Bandara, makanan yang saya santap adalah ayam bakar dan es keruk alpukat, saat itu saya makan dengan tangan dan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, kemudian minum es alpukat, kedua saya minum kopi susu, dimana saya sudah lama tidak minum kopi susu, bisa jadi perut saya juga kaget. Berdasarkan hasil analisa dokter , saya diberikan 3 macam obat yaitu obat untuk mengatasi sakit perut, antibiotik dan juga obat anti mual. Kemudian saya langsung diminta untuk meminum obat sakit perut dan antibiotic. Beberapa saat berlalu perut saya terasa lebih baik, wah ampuh sekali obatnya pikir saya. Namun kenapa beberapa waktu perut kembali sakit, mungkin ini detoks dari penyebab sakit perut pikir saya. Proses tersebut berlangsung cukup lama, sehingga saya baru bisa meninggalkan bandara pukul 10 malam, sungguh penutupan perjalanan yang tidak diduga bukan hahaha. Namun karena kejadian ini saya jadi belajar, dan lebih memperhatikan apa yang harus dihindari untuk dimakan atau diminum ketika kita akan melakukan perjalanan yang jauh, tentunya juga untuk mencegah kejadian yang serupa.

 

 

Sebagai penutup ada beberapa tips yang saya mau bagikan ketika kita berlibur :

Kalau ke wisata pantai, sediakan spons atau busa untuk mencuci piring ( dalam keadaan kering ) untuk membersihkan sisa pasir yang menempel pada kaki, sandal atau sepatu. Ini juga bertujuan untuk menjaga kebersihan kendaraaan yang kita bawa / sewa.

Suka Snorkeling / Diving ? sebaiknya kalian menyiapkan kacamata dan juga selang pernapasan, tujuannya agar ukurannya pas dengan bentuk kepala kita dan juga agar kita tidak bertukar alat pernapasan dengan orang lain ( alasan kebersihan ).

Car Charger dengan input ke pemanas mobil sangat berguna ketika dalam perjalanan atau berpindah tempat wisata kita harus mengisi daya handphone.

Electrical Socket sangat membantu agar kita bisa mengisi daya untuk beberapa perangkat kita, misalnya handphone, tablet, kamera dan juga laptop.

Usahakan membawa Powerbank ketika kita akan pergi seharian, tujuannya untuk mencegah baterai kita habis, sehingga tetap bisa berhubungan dengan teman perjalanan kita, dan juga kita harus lebih efisien untuk menggunakan handphone, dan mengurangi update ke social media sehingga menghemat baterai.

 

Sekian kisah perjalanan ke Belitung 28, 29 dan 30 April 2016 yang lalu, tidak menyangka menulis rekaman perjalanan memakan waktu selama ini hahaha..

Doakan saya agar untuk perjalanan yang akan datang tulisannya dapat dimuat lebih cepat.

Salam Jelajah Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *